Tag: resensi

Look Ma, eXtra Large!

Extra LargeExtra Large (XL), Antara Aku, Kau dan Mak Erot. Film lokal teranyar besutan sutrada Monty Tiwa, yang sekaligus juga penulisnya. Dalam benakku, film ini pasti berorientasi seksualitas, seperti Quickie Express atau Kawin Kontrak, lagi ngikutin musim semata. Paling-paling dibumbui sedikit humor.

Scene pertama sudah ada adegan ‘mobil bergoyang’. Meskipun tidak jelas, tapi ini sudah membuktikan kalau ini adalah merupakan adegan sepasang manusia sedang bercinta. Dari sejak pertama pula, saya menjudge kalo film ini tidak lebih dari sekedar dari cerita tanpa arti, yang sedikit renyah. Tapi penilaian tersebut berubah setelah keluar dari studio 1 Grand 21 Solo Grand Mall.

Dua hari sebelumnya, saya terlibat adu mulut dengan kekasihku, yang membuat kami agak dingin untuk beberapa hari kedepan. Jadi terpaksa nonton eXtra Large seorang diri. Dan saya merasa beruntung banget sempat menonton film ini. Entah karena kebetulan, tokoh dalam film tersebut bernama intan, seorang pe’cun yang disewa Deni dalam rangka Praktek Kerja Lapangan. Dan ternyata kekasihku juga namanya Intan. pertama gak percaya, kemungkinan salah dengar, tapi seterusnya saya yakin tokoh tersebut bernama Intan. Dan akhirnya saya mengacungi 2 jempol untuk Monty Tiwa (kalo tambah 2 jempol lagi, takut dikira gak sopan). Ia tidak sekedar menyuguhkan film pelepas stress dan jenuh, tapi juga menyelipkan arti besar dibalik ceritanya.

Continue reading “Look Ma, eXtra Large!”

Advertisements

Golden Compass

Baru hari ini terlaksana, menonton film Golden Compass, ditemani teman-teman Loenpia.net, Adi, Ahmed, Nining, Puput, Ple-q beserta pasangan, dan Kiyat juga beserta pasangannya.

Golden Compass PosterKenapa baru hari ini? Setelah sebelumnya menyaksikan trailer lewat Apple.com, saya merasa gak berminat menonton, coz it’s not my fav genre, Fantasy. Film yang diangkat dari novel berjudul Northen Lights (His Dark Materials dalam versi terbitan USA) yang dikarang oleh Philip Pullman ini berkisah tentang sebuah dunia dimana setiap manusia memiliki kembaran jiwa yang berupa hewan, yang dinamakan Dæmon. Jadi menurutku, dæmon ini ada mendampingi setiap bayi yang lahir, kemudian hilang bersamaan dengan hilangnya jiwa (nyawa) si manusia. Masalah dæmon itu berwujud hewan apa, saya masih belum mengetahuinya dengan pasti, karena saat Manusia tersebut masih kecil, dæmon bisa berubah menjadi apa saja, dan belum bisa mengontrolnya.

Golden Compass merujuk kepada sebuah kompas pencari kebenaran, yang dinamakan Alethiometer. Tidak semua orang dapat membaca Alethiometer. Hanya seorang anak kecil, perempuan (Hey, saya tidak melihat anak perempuan lain selain Lyra Belacqua) yang dapat membaca Alethiometer. Kemudian kompas tersebut digunakan untuk menyelamatkan teman-temanya (dan dæmon-nya) yang diculik oleh Magisterium, yang dinamakan Gobbler.

Akhirnya petualangan selesai dengan semua anak-anak bisa dibebaskan dari Gobbler. Ah, saya tidak akan menceritakan semua alur ceritanya disini. Selain faktor kemampuan, saya juga tidak akan memberikan spoiler bagi yang belum menonton, tidak etis katanya. cukup garis besarnya saja, ya…

Overall, film ini cukup seru untuk diikuti. Animasi CG, yang not bad, lah… kemudian faktor akting yang memerankan masing-masing karakter juga cukup kuat kayaknya.. cuman endingnya agak nanggung, sama kayak Lord of The Ring yang kedua (Apa sih judulnya? lupa deh..), tapi katanya, sebenarnya endingnya gak nggantung gitu, cuman faktor marketing pressure supaya ketagihan menonton, jadi endingnya bakal ditayangin di awal sekuel selanjutnya.

Sekuel selanjutnya? ya, film ini bakal berlanjut, The Subtle Knife, mengikuti jejak Lord of The Ring, Harry Potter, Jurassic Park atau Narnia.

Jadi, bagus ndak sih ni film ?. Udah, nonton trailernya dulu biar nanti gak merasa rugi.

Official site : [Link]
Trailer(From Apple.com) : [Link]
Poster taken from movieposterdb.com

I Am Legend

My name is Robert Neville. I am a survivor living in a New York City. I am broadcasting on all AM frequencies. I will be at the South Street Seaport everyday at mid-day, when the sun is highest in the sky. If you are out there, I can provide food, I can provide shelter, I can provide security. If there is anybody out there.. anybody. Please, you’re not alone.

iamlegend3_large.jpgKalimat yang sebenarnya bermakna ketegaran, tapi juga menunjukkan ungkapan kesepian Neville (Will Smith) dalam film I Am Legend.
Film yang dibuat berdasarkan novel sci-fi karya Richard Matheson (1954) ini bisa jadi sangat membosankan. Jelas saja, selama hampir 100 menit, ia beradegan monolog.
Film ini juga merupakan remake dari film The Last Man on Earth (1964) dan The Omega Man (1971).
Neville hanya berbicara dengan anjingnya, Samantha, Mannequin yang didandan sedemikian rupa (mungkin) olehnya, dan membuat rekaman video medisnya. Untungnya film ini tidak terjebak pada sebuah drama membosankan. Rutinitas Robert Neville setiap hari selalu berbeda. Diselingi dengan dengan adegan flashback di tahun 2009 (3 tahun yang lalu) antara ia, keluarganya dan milyaran penduduk bumi lainnya.

Kisah ini bermula ketika ada seorang dokter yang menemukan virus untuk melumpuhkan virus penyebab kanker, awalnya berhasil, tetapi virus itu lama-kelamaan menjadi tak terkontrol dan menyebar melalui udara. Yang tidak kebal terhadap virus itu kemudian mati kehabisan darah. Yang kebal, sebagian besar bermutasi menjadi makhluk yang takut akan sinar UV dan suka menggigit, Dark seeker(CMIIW), kemudian sebagian kecil kebal terhadap virus tersebut, baik melalui udara ataupun kontak langsung.

Pada akhirnya, film ini benar-benar layak ditonton (tidak seperti di studio sebelah, yang niru-niru Final Destination, hare geneh masih niru-niru?, ABCD, Aduh Booo Capwek Dehhh..). Tempo adegan yang naik-turun.. kadang suasana sunyi, sibuk memperhatikan tingkah Neville, kadang kaget + serem ketika Dark Seeker datang tiba-tiba.

Anyway, pada salah satu scene diawal, tampak ada poster film bioskop yang bergambar lambang Batman di background serta lambang Superman di foreground, yang berarti, mungkin Batman & Robin akan main satu film dengan Superman.. apa iya? 2009 lho…

National Treasure : Book Of Secret

nationaltreasure22_large.jpgMenyusul suksesnya film National Treasures pada 2004, Walt Disney Pictures kembal merilis sequel keduanya : National Treasures : Book Of Secret. Konon awalnya sang prosuder tak ada niatan membuat sekuel dari film tahun 2004 yang lalu.Tetapi melihat pundi-pundi yang dihasilkan film ini, sekitar US $347,5 juta dari seluruh dunia, siapa yang tidak tergiur.

Lakon-lakonnya hampir semuanya sama, seperti Nicolas Cage, Justin Bartha dan Diane Kruger. Tidak termasuk tokoh antagonis yang lalu, yang endingnya ditangkap oleh FBI. Kali ini tokoh antagonisnya merupakan seorang penadah pasar gelap yang ikut berburu harta karun yang dikejar.

 Pada bagian pembuka, dengan set abad 19, sudah disuguhkan jenis teka-teki ‘Playfair Chiper’, yang ternyata sangat mengasyikkan. Tidak berbeda dengan sekuel pertamanya, film ini juga dipenuhi cerita seputar memecahkan teka-teki, menyangkut pautkan teka-teki yang satu dan yang lainnya. Yang pada akhirnya menunjukkan sebuah peta harta karun, kota Cibola, kota yang terdiri emas murni pada setiap materialnya, peninggalan suku kuno pra-Kolombia.

Misinya sama seperti film terdahulu, Ben Gates mencoba memecahkan teka-teki dengan kecerdasanya, dan musuhnya mengganggunya dengan licik.

 Ada sebuah scene yang menurut saya lucu bin ngakak, adegan ketika Riley Poole tidak menyangka bahwa kendaraan di Inggris Raya sistem kemudinya berada di sebelah kanan.

 Kemudian yang mengagumkan, ketika ponsel Patrick Gates di-Clone oleh Mitch, mulai dari phone book sampai nomer hape nya pun ikut diklon.

 Secara keseluruhan film ini bagus, bisa membuat kita tidak membanding-bandingkan dengan film pendahulunya. Cuman endingnya agak nggantung (What’s on page 47?), tapi terselip kisah heroik disitu..