Tag: Opini

Look Ma, Aku Malu Jadi Mahasiswa!

Saya gak habis pikir, jikalau saya menjadi orang tua mahasiswa yang mengacungkan kayu kearah aparat pada gambar di samping. Dibiayain mahal-mahal untuk kuliah di ibukota, bukanya membanggakan ortu, malah bikin cemas.

Semenjak pemerintah benar-benar menaikan harga Bahan Bakar Minyak bersubsidi, demo menolak kebijakan tak populer pemerintah menjamur, mulai dari ibu-ibu rumah tangga hingga anggota DPR, tak ketinggalan mahasiswa. Saya sejujurnya juga gak kepingin harga BBM bersubsidi naik. Tanyalah kepada siapapun, siapa yang ingin membeli BBM lebih mahal daripada hari kemarin.

Saya setuju jika mahasiswa membela rakyat kecil. Saya setuju jika mahasiswa berpihak kepada rakyat miskin yang semakin terjepit himpitan ekonomi. Tapi tidak dengan anarkhisme. Mau pake alasan SBY-JK menaikan harga BBM? Duh.. apa gak baca koran atau berita? katanya mahasiswa? Tau kan kalau harga BBM tanggal 29 Mei 2008 berada dikisaran US$ 130/barrel? Tau kan kalau itu dipicu oleh melemahnya ekonomi AS yang notabene sebagai konsumen produk minyak terbesar didunia? Tau kan kalau Cina lagi rakus minta BBM untuk persiapan Olimpiade Beijing Agustus besok? Katanya mahasiswa? Mestinya protes sama pemerintah AS atau China. Mau bilang Indonesia kaya minyak? Lha para aset bangsanya pada sibuk demonstrasi, bukanya belajar yang serius, cepat lulus. Katanya mahasiswa?

Continue reading “Look Ma, Aku Malu Jadi Mahasiswa!”

Advertisements

Look Ma, eXtra Large!

Extra LargeExtra Large (XL), Antara Aku, Kau dan Mak Erot. Film lokal teranyar besutan sutrada Monty Tiwa, yang sekaligus juga penulisnya. Dalam benakku, film ini pasti berorientasi seksualitas, seperti Quickie Express atau Kawin Kontrak, lagi ngikutin musim semata. Paling-paling dibumbui sedikit humor.

Scene pertama sudah ada adegan ‘mobil bergoyang’. Meskipun tidak jelas, tapi ini sudah membuktikan kalau ini adalah merupakan adegan sepasang manusia sedang bercinta. Dari sejak pertama pula, saya menjudge kalo film ini tidak lebih dari sekedar dari cerita tanpa arti, yang sedikit renyah. Tapi penilaian tersebut berubah setelah keluar dari studio 1 Grand 21 Solo Grand Mall.

Dua hari sebelumnya, saya terlibat adu mulut dengan kekasihku, yang membuat kami agak dingin untuk beberapa hari kedepan. Jadi terpaksa nonton eXtra Large seorang diri. Dan saya merasa beruntung banget sempat menonton film ini. Entah karena kebetulan, tokoh dalam film tersebut bernama intan, seorang pe’cun yang disewa Deni dalam rangka Praktek Kerja Lapangan. Dan ternyata kekasihku juga namanya Intan. pertama gak percaya, kemungkinan salah dengar, tapi seterusnya saya yakin tokoh tersebut bernama Intan. Dan akhirnya saya mengacungi 2 jempol untuk Monty Tiwa (kalo tambah 2 jempol lagi, takut dikira gak sopan). Ia tidak sekedar menyuguhkan film pelepas stress dan jenuh, tapi juga menyelipkan arti besar dibalik ceritanya.

Continue reading “Look Ma, eXtra Large!”

Look Ma, Im Dreaming!

Crying - Skrinsut dari The Witch

Sesuai jadwal akhir minggu, tim betemen Loenpia.net mencoba peruntungan melepas penat dengan bermain PlayStation di rumahku. Dimulai dengan selepas Isya’ hari sabtu, hingga menjelang Maghrib keesokan harinya. Kebetulan, kemarin diisi dengan acara belah makan durian, jadi ada sebagian yang mabuk durian, ada yang kemudian terlelap hingga Maghrib, ada juga yang saluran pembuangannya mampet, alias emisi buangannya tidak mau keluar. Hingga akhirnya ada Lowo, H4rs, Teguh dan Niff yang masih tersisa hingga pukul sepuluh malam, melewati batas waktu jam operasional tim betemen.

Tentunya sudah tidak ada lagi tenaga tersisa pada saat itu, mengingat pagi harinya, beberapa dari tim betemen bermain polo air di kolam renang. Lengkap sudah penderitaannya, badan pegal-pegal gak karuan, stamina yang tinggal menyisakan ‘Emergency Use Only‘ ditambah keharusan beraktifitas pada senin pagi. Pak dhe h4rs akhirnya memutuskan menginap lagi di rumahku. Setelah sedikit kerja bakti, it’s time to sleep, kamar sudah ku-set agar bersuhu sedingin bandungan, 19 derajat celcius, demi atas nama kenyenyakan tidur.

Continue reading “Look Ma, Im Dreaming!”

Golden Compass

Baru hari ini terlaksana, menonton film Golden Compass, ditemani teman-teman Loenpia.net, Adi, Ahmed, Nining, Puput, Ple-q beserta pasangan, dan Kiyat juga beserta pasangannya.

Golden Compass PosterKenapa baru hari ini? Setelah sebelumnya menyaksikan trailer lewat Apple.com, saya merasa gak berminat menonton, coz it’s not my fav genre, Fantasy. Film yang diangkat dari novel berjudul Northen Lights (His Dark Materials dalam versi terbitan USA) yang dikarang oleh Philip Pullman ini berkisah tentang sebuah dunia dimana setiap manusia memiliki kembaran jiwa yang berupa hewan, yang dinamakan Dæmon. Jadi menurutku, dæmon ini ada mendampingi setiap bayi yang lahir, kemudian hilang bersamaan dengan hilangnya jiwa (nyawa) si manusia. Masalah dæmon itu berwujud hewan apa, saya masih belum mengetahuinya dengan pasti, karena saat Manusia tersebut masih kecil, dæmon bisa berubah menjadi apa saja, dan belum bisa mengontrolnya.

Golden Compass merujuk kepada sebuah kompas pencari kebenaran, yang dinamakan Alethiometer. Tidak semua orang dapat membaca Alethiometer. Hanya seorang anak kecil, perempuan (Hey, saya tidak melihat anak perempuan lain selain Lyra Belacqua) yang dapat membaca Alethiometer. Kemudian kompas tersebut digunakan untuk menyelamatkan teman-temanya (dan dæmon-nya) yang diculik oleh Magisterium, yang dinamakan Gobbler.

Akhirnya petualangan selesai dengan semua anak-anak bisa dibebaskan dari Gobbler. Ah, saya tidak akan menceritakan semua alur ceritanya disini. Selain faktor kemampuan, saya juga tidak akan memberikan spoiler bagi yang belum menonton, tidak etis katanya. cukup garis besarnya saja, ya…

Overall, film ini cukup seru untuk diikuti. Animasi CG, yang not bad, lah… kemudian faktor akting yang memerankan masing-masing karakter juga cukup kuat kayaknya.. cuman endingnya agak nanggung, sama kayak Lord of The Ring yang kedua (Apa sih judulnya? lupa deh..), tapi katanya, sebenarnya endingnya gak nggantung gitu, cuman faktor marketing pressure supaya ketagihan menonton, jadi endingnya bakal ditayangin di awal sekuel selanjutnya.

Sekuel selanjutnya? ya, film ini bakal berlanjut, The Subtle Knife, mengikuti jejak Lord of The Ring, Harry Potter, Jurassic Park atau Narnia.

Jadi, bagus ndak sih ni film ?. Udah, nonton trailernya dulu biar nanti gak merasa rugi.

Official site : [Link]
Trailer(From Apple.com) : [Link]
Poster taken from movieposterdb.com

Demi Search Engine

Bukan foto pulau yang sedang dipermasalahkan lho

Demi mendapat posisi menguntungkan di penyedia jasa Search Engine seorang pencari investor di Karangasem, Bali harus berurusan dengan kepolisian RI.

Padahal mungkin niatnya baik, ingin mencari investor untuk kedua pulau di kawasan Sumbawa. Ni Made Metri, menggunakan kata For Sale, demi meraih posisi paling atas di Search Engine yang mana kata-kata tersebut dianggapnya lebih populer daripada Investor Needed atau Investor Wanted. Tapi apa mau dikata, taktiknya (mungkin) disalah artikan, akhirnya Ia terlibat kasus penjualan pulau…

Yang ngajarin Ni Made Metri atau suaminya tentang SEO siapa ya?

[Terkait] [Terkait]
Picture taken from privateislandsonline.com

OOT
Finally, this blog has accomplished for Milestone 40,000 visitors. Next will be 50,000
Thanks to You all for visiting My Blog..

What’s In A Name

Kata William Shakespeare : “What’s In A Name?” atau, apalah arti sebuah nama?.

Bagi sebagian orang eropa atau amerika, memang menyatakan What’s In A Name ?, nama hanya sekedar tanda pengenal, identitas untuk membedakan seseorang dengan orang lainnya. Di eropa atau Amerika, sistem pemberian nama umumnya terbagi menjadi dua bagian, yaitu First Name (Nama pemberian) dan Last Name (Nama keluarga atau marga), meskipun di Indonesia, di kawasan Tanah batak juga berlaku hal seperti ini.

Continue reading “What’s In A Name”